Ketik di sini dan Temukan artikel/produk lainnya

Minggu, 05 Juni 2016

Perhatikan etika komunikasi mahasiswa, saat kamu sms dosen !

Perhatikan etika komunikasi mahasiswa, saat kamu sms dosen !

Sebagai orang yang berpendidikan, mahasiswa seharusnya mempunyai etika yang luhur serta selalu bersikap sopan terutama saat berinteraksi dengan lawan bicaranya.

Etika adalah modal utama bagi seseorang untuk mampu bertahan hidup bermasyarakat, terutama ketika berinteraksi dengan orang lain. Siapapun itu, etika mesti digunakan termasuk saat berbicara dan bersikap.
Sebagai orang yang berpendidikan, mahasiswa seharusnya mempunyai etika yang luhur serta selalu bersikap sopan terutama saat berinteraksi dengan lawan bicaranya.

Dalam kehidupan kampus, sudah menjadi hal lumrah jika mahasiswa saling berinteraksi dengan dosen terkait urusan akademik. Apalagi bagi kamu yang kini mengerjakan skripsi, tentu hampir setiap pekan kamu akan berhadapan langsung dengan dosen pembimbing. Mau tidak mau, kamu harus janjian terlebih dahulu untuk ketemuan.

Meski demikian, ada sejumlah mahasiswa yang ternyata kurang memahami tata cara mengirim pesan yang benar kepada dosen. Mahasiswa tipe ini biasanya cenderung asal mengirim SMS, menggunakan bahasa yang kurang sopan, serta tidak langsung keperluan alias bertele-tele.

Sebagai orang yang berpendidikan, mahasiswa seharusnya mempunyai etika yang luhur serta selalu bersikap sopan terutama saat berinteraksi dengan lawan bicaranya.Sebagai orang yang berpendidikan, mahasiswa seharusnya mempunyai etika yang luhur serta selalu bersikap sopan terutama saat berinteraksi dengan lawan bicaranya.

Ia mungkin lupa bahwa ia sedang berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dan tempatnya menimba ilmu. Bagaimanapun ia mestinya tetap memperhatikan etika dalam berkomunikasi dengan dosennya. Berikut etika ber-SMS atau mem-WA dosen:

1. Ketahui Karakteristik Dosen Terlebih Dahulu
Mengenali karakter dosen akan membantumu menemukan cara tepat untuk berkomunikasi dengan mereka. Dosen itu banyak tipenya. Ada yang prefer untuk dihubungi via telepon saja, SMS saja atau bahkan keduanya pun oke. Untuk beberapa dosen malah ada yang lebih memilih e-mail dibandingkan telepon atau SMS. Kenali tipe dosen kamu dan ketahui media "favorit" beliau untuk berkomunikasi. Bisa tanyakan langsung atau ke teman yang memang sering kontak dengan beliau. 

2. Salam dan Perkenalkan Identitas Diri
“Posisi Bapak sekarang lagi dimana? Kapan saya bisa ketemu?”
“Pak, untuk UTS besok materinya yang mana?”
“Bu, ini tugasnya dikumpul di mana? Bu, saya tadi ke ruangan ibu, tapi ibu gak ada.”


Ini beberapa SMS atau WA yang sering kali diterima dosen. Meskipun bahasanya masih bisa dikatakan cukup sopan dan tak melanggar etika secara serius, tapi mahasiswa tak mencantumkan namanya dalam SMS atau WA-nya.

3. Tahu Waktu
Jangan SMS dosen pada waktu-waktu yang salah! Sebagian besar dosen punya banyak kesibukan, entah itu mengajar, meneliti, rapat, mengisi seminar, menulis artikel atau menulis buku, termasuk membimbing.

Lebih baik ketahui jadwalnya terlebih dahulu untuk memastikan sibuk tidaknya beliau pada jam-jam tertentu. Jika sudah pasti, SMS pada diluar jam sibuknya. Hal ini menghindari SMS yang tidak terbalas karena biasanya ketika sibuk, pesan SMS akan "sambil lalu" dan lupa untuk dibalas.

4. Jangan Pakai Bahasa Terkesan Memerintah
“Bu saya … dari kelas … Boleh minta slide kuliah gak bu? Kirimin via gmail aja ya bu, kita butuh buat belajar, makasih…”
“Pak posisi dimana? Kapan masuk kelas?  Teman-teman sudah lama nungguinnya.”
“Bu kok saya dapat nilai E, sih. Padahal saya kan rajin masuk kelas ibu. Pertimbangin lagi, ya Bu.”   

Sekali lagi, perlu diinget nih, dosen kan ibarat orangtua kita di kampus. Jadi, bagusnya kita juga harus bersikap lebih sopan ketika berbicara dengannya, persis saat berbicara dengan orangtua.

Jangan samakan dengan ketika berbicara dengan teman. Saat hendak mengkomplain nilai, ada baiknya temui langsung beliau, bukan lewat SMS atau WA. Ini untuk mengurangi kemungkinan salah paham.

Jangan juga mengkomplain nilai di grup WA. Karena, selain tidak sopan, kamu bisa terkena konsekuensi hukum bila dosen tidak nyaman dengan komplainanmu.

5. Tuliskan Singkat dan Padat Keperluanmu dan Jangan Mengatur Jadwal
Tulislah pesanmu dengan singkat dan jelas. Jangan bertele-tele atau kepanjangan. Cukup langsung ke keperluanmu saja

Meskipun singkat dan padat, tapi jangan sampai kamu terkesan mengatur jadwal dosen, ya.
Berikut ini beberapa SMS atau WA yang sering diterima para dosen:
“Pak bimbingannya diundur besok aja yah. Soalnya kucing saya mati.”
“Bu, saya masih ngeprint, bimbingannya jam 3 aja yah.”
“Waduh, pagi ini lagi ada kerja bakti di kosan saya Bu. Sore aja yah kumpulin tugasnya, bu.”


Ini yang mau bimbingan siapa, tapi yang merasa dibutuhkan justru kebalik. Kalau misalnya ada keperluan lain, sebaiknya kamu meminta maaf dan menyertakan alasan yang logis untuk dosen. Apa susah bersikap santun dan sopan, apalagi pada orang yang lebih tua dan orang yang memberimu ilmu.

 6. Ucapkan Terima Kasih
Di penghujung pesan, jangan lupa cantumkan ucapan terima kasih. Ucapan ini menandakan bahwa kita mengapresiasi waktu dan usaha yang beliau berikan untuk kita. Jangan mengharapkan ucapan terima kasih kembali karena bukan itu tujuan dari ucapan terima kasih yang kamu berikan.

Ucapan terima kasih ini juga bisa meredakan tensi membaca pesan, terlebih jika pesan inti cukup padat dan dengan demikian kemungkinan pesan kita akan dibalas juga besar.

***

Meski terdengar sepele, tata cara mengirim pesan singkat ke dosen harus kamu perhatikan agar SMS kamu dibalas. Bahkan, sebuah perguruan tinggi di Jakarta membuat aturan khusus etika mengirim pesan yang baik kepada dosen.
etika komunikasi mahasiswa dengan dosen

Kalau masih bingung, kamu juga bisa menggunakan format di bawah ini:

etika komunikasi mahasiswa dengan dosen

Sumber: faizridhal, datdut, brilio

Post Comment

0 komentar

click to leave a comment!

 
+ Follow
Join on this site

with Google Friend Connect